Ngeri! Misteri Badai Debu ‘Kiriman Tuhan’ untuk Israel

Posted on 18.57 by

SUARAPUBLIK - Kebakaran hebat melanda beberapa kota di Israel selama berhari-hari. Belum lagi panas dari sisa-sisa kebakaran itu sirna, kini muncul kejadian alam yang tak biasa, yaitu berupa badai debu dan hujan lebat. Peristiwa alam itu terlihat di perbatasan Israel dan wilayah Suriah yang dikuasai ISIS.

Anehnya, kejadian alam itu tidak bisa masuk ke Dataran Tinggi Golan yang masuk wilayah Israel. Video fenomena cuaca unik itu diunggah di Facebook oleh Israel News Online. Diduga badai debu dan hujan lebat itu terjadi pada hari Kamis, 1 Desember sekitar jam 8 pagi waktu setempat.

Di laman Facebook, Israel News Online menulis, ” Sebuah fenomena alam terjadi pada hari Kamis jam 8 pagi di perbatasan di sisi Suriah, tempat ISIS pernah menyerang Israel.”

Fenomena alam berupa campuran badai debu, awan, dan hujan, itu berputar-putar sekitar perbatasan sehingga terlihat seperti pembatas antara Israel dan ISIS.

Terjadi banyak perdebatan terkait fenomena ini. Ada yang menyebut badai itu sebagai ‘kiriman Tuhan’ untuk melindungi Israel dari ISIS.

Namun yang lain merasa skeptis dan tidak sependapat, dengan menulis, ” Sebenarnya, itu hanyalah fenomena alam biasa.”


Presiden Israel Kutuk Larangan Azan di Masjid

Presiden Israel, Reuven Rivlin, pada Selasa kemarin mengutuk RUU kontroversial yang akan melarang masjid-masjid melantunkan azan menggunakan pengeras suara.

RUU, yang memicu kemarahan seluruh warga Arab dan dunia itu akan diserahkan untuk pembacaan pertama di Parlemen Israel pada Rabu, 30 November.

Aturan yang baru diubah pekan lalu itu terlihat sangat diskriminatif. Karena tidak melarang pembunyian sirene yang biasa dilakukan untuk mengawali waktu ibadah agama Yahudi yang dimulai saat matahari terbenam setiap hari Jumat.

Dari kediamannya di Yerusalem, Rivlin mengadakan pertemuan dengan para pemuka agama pada Selasa kemarin. Pertemuan itu digelar untuk mencari solusi masalah kesenjangan yang dialami para muadzin.

” Saya berpikir bahwa mungkin pertemuan semacam itu bisa berdampak pada seluruh masyarakat. Sangat memalukan jika hukum yang dilahirkan menyentuh isu kebebasan berkeyakinan kelompok tertentu di antara kita,” kata Rivlin.

Rivlin menganggap undang-undang baru yang didukung oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebagai sesuatu yang tidak perlu.

” Presiden percaya bahwa undang-undang yang ada mengenai tingkat kebisingan mampu menjawab masalah yang timbul dari persoalan ini, di samping melalui dialog antara komunitas agama di Israel,” kata Naomi Toledano Kandel, juru bicara Rivlin.

Badan Pengawas Pemerintah Israel terus menentang undang-undang yang diusulkan, dan menggambarkannya sebagai ancaman terhadap kebebasan beragama dan provokasi yang tidak perlu.

Anggota parlemen Arab Israel Ahmed Tibi telah bersumpah untuk mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Kehakiman jika sirene Shabbat dikecualikan dari agenda RUU. Tibi beralasan pengecualian sirene Shabbat akan membedakan antara warga Yahudi dan Muslim.

Aturan dalam undang-undang baru itu rencananya akan berlaku untuk masjid-masjid yang berada di Israel dan Yerusalem Timur yang dikuasai negara Yahudi itu sejak 1967. Namun aturan dalam undang-undang itu mengecualikan Masjid Al-Aqsa yang merupakan tempat tersuci ketiga bagi umat Islam.

Pendorong RUU tersebut, Motti Yogev, dari partai sayap kanan Rumah Yahudi, mengatakan undang-undang ini diperlukan untuk menghindari gangguan sehari-hari bagi kehidupan ratusan ribu warga Israel non-Muslim.

Dia juga menuduh bahwa beberapa muazin menyalahgunakan tugas mereka untuk memicu kebencian terhadap Israel.


Israel Dikepung Api, Ribuan Warga Mengungsi

Sekitar 80 ribu warga diperintahkan mengungsi akibat kebakaran hebat yang melanda sejumlah kawasan di Israel. Salah satu titik kebakaran terhebat terjadi di Haifa, yang merupakan kota besar ketiga Israel.

Kebakaran hebat ini merupakan dampak kekeringan yang telah berlangsung selama dua bulan. Tiupan angin timur yang kencang menyebabkan titik api semakin melebar. Kebakaran ini menghanguskan rumah-rumah dekat Yerusalem dan di Tepi Barat.

Kepala Kepolisian Israel mengatakan, kebakaran yang terjadi diduga merupakan upaya pembakaran. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bahkan langsung menyebut sebagai tindakan teror.

” Setiap api yang merupakan hasil pembakaran atau hasutan untuk pembakaran adalah teror dan kami akan memperlakukannya seperti itu,” ujar Netanyahu kepada harian Hareetz.

” Setiap orang yang mencoba membakar bagian negara Israel akan dihukum berat,” ucap dia. [DREAM/SUARAPUBLIK]